Pages

After Years

Yes, here we go again. 

Sudah sekian lama vakum dari blogspot, kali ini saya memberanikan diri untuk kembali membuat postingan mengenai apa yang ada di pikiran saya. Dengan banyak beban baru mengenai apa yang sebenarnya ada di Indonesia dan permasalahan yang menjadi sorotan bagi saya.

Where do I start?
OK, let's talk about Indonesia as a nation first. Sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah "Indonesia bagi anda apa?". Bagi sebagian orang, akan dijawab dengan "Tanah tumpah darah saya", "negara saya", "tempat tinggal saya" dan lain sebagainya. Ya, itu tidak salah, namun apa "makna" Indonesia bagi anda? Mungkin ini merupakan pertanyaan bodoh yang banyak dilontarkan anak kecil, namun sebenarnya mendalam.

Kita bisa berkata, Indonesia adalah tempat, negara, dan lain-lain, tapi secara filosofis, apa arti Indonesia? Bagi saya sendiri, Indonesia tidak lebih sebagai wadah, wadah dari keberagaman yang ada di daerahnya. Akan tetapi wadah ini adalah wadah yang tidak dapat secara sempurna mengelola apa yang ada di dalamnya. Ada ruang kosong di dalamnya yang semestinya diisi. Dan bagi saya, yang hilang adalah komunikasi.

Anggaplah, Indonesia adalah sebuah ember, yang diisi oleh bola-bola yang beraneka ragam bentuk, bobot, warna serta ukuran. Seberapa banyak bola yang dimasukkan, tetap akan ada ruang kosong yang ada di dalamnya. Perumpamaan ini melambangkan apa yang kita sebut sebagai "keberagaman" kita. Di sini ijinkan saya berbicara mengenai etnis, agama, suku, ras, pendidikan, budaya, kultur, kasta, ekonomi, pemikiran, dan lain-lain. Hal yang secara nyata merupakan "perbedaan" diantara kita. Bola-bola ini sampai kapanpun tidak akan mengisi ember tersebut secara utuh. Akan tetapi, ketika dituangkan air ke dalamnya, celah diantara bola-bola ini dapat terisi. Air inilah yang bagi saya, dimaknai sebagai komunikasi. Dengan adanya komunikasi ini, ada pemahaman yang mendorong agar Indonesia menjadi sesuatu yang utuh, dan tidak merupakan sekedar wadah saja.

Mengapa saya berkata seperti itu? Bolehkah saya bertanya kepada anda, apa yang anda ketahui tentang konflik yang membara di antara kita, orang Indonesia selama ini? Kalau boleh ditelusuri, saya rasa jawabannya adalah karena TIDAK ADANYA KOMUNIKASI antara perbedaan-perbedaan tersebut. Dan, komunikasi yang saya maksud bukan hanya sekedar ngobrol saja. menurut saya, komunikasi yang dewasa, yang adanya TENGGANG RASA yang banyak hilang dari Indonesia saat ini. 

Beberapa waktu ini, saya kerap menemukan dalam realitas perkuliahan saya, abstainnya komunikasi yang bertujuan mencari mufakat. Bukankah ini salah satu ideologi negara kita? (saya tidak akan menyebut Indonesia sebagai bangsa, karena bangsa merupakan sesuatu yang homogen, sedangkan Indonesia merupakan kumpulan "bola" yang berbeda satu sama lainnya) Bukankah ini sesuatu yang aneh? Bahkan dalam saya rasa pendiri negara kita ini tentu sudah memikirkan adanya heterogenitas negara kita yang tidak mungkin disatukan. Bila kita bisa bertanya kepada para pendiri, kira-kira, inikah Indonesia yang mereka idam-idamkan? Ataukah kita membentuk Indonesia yang baru? Yang berbeda sama sekali dari apa yang mereka cita-citakan? Mengapa tidak sekalian saja mulai dari awal jika kita memang tidak ingin meneruskan apa yang mereka cita-citakan? Bagi saya, Indonesia saat ini adalah suatu bentuk "kegalauan" masyarakat mengenai identitas. 

Mengenai identitas ini, bila kita bercermin, sebenarnya kita tidak bisa menggunakan hal-hal seputar kenegaraan yang kita pelajari dari luar negeri. Terutama sistem kenegaraan yang digunakan. Mengapa? Bagi saya, ketika kita menggunakan adaptasi dari luar, maka itu bukan Indonesia. Sebagai contoh, demokrasi, menurut saya, demokrasi hanya bisa berjalan ketika masyarakat sudah dapat menerima perbedaan. Sementara, dalam pandangan saya, masyarakat Indonesia saat ini adalah masyarakat "muda" yang masi komunal dan tidak mau melihat adanya perbedaan di antara kita. Lalu apakah demokrasi bisa berjalan? Saya rasa jalannya akan pincang. Itu sama saja ketika kita bejalan dengan menggunakan motor yang ban-nya kempis, terseok-seok dan terancam jatuh.

Lalu apa yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia? Bagi saya, Indonesia butuh dewasa! Dan yang mengecewakan adalah, usaha untuk dewasa ini hampir mustahil dilakukan saat ini. Dewasa yang seperti apa? Itu pertanyaan yang bagus, lihatlah sebagai contoh ke Amerika Serikat, berapa tahun yang mereka butuhkan untuk dapat menjadi negara yang liberal? Saya rasa ratusan tahun pun tidak cukup, bahkan kurang. Tetapi paling tidak hal ini membantu memberikan gambaran. Bila dibanding dengan Indonesia yang hanya berumur seumur jagung ini, kita jelas kalah. Mereka memiliki waktu beratus-ratus tahun dalam mengembangkan "pola" mereka sendiri. Sedangkat kita baru seumur jagung! Pola ini tentu disesuaikan dengan karakteristik mereka. Tidak berdasar karakteristik negara lain!

Namun apa yang terjadi di Indonesia saat ini? Mengingat kerja kita yang tampaknya selalu bersetting dari luar negeri. Tentu apa yang ada di luar sana tidak sama dengan di Indonesia! Konyol jika kita hendak meniru apa yang ada di sana.

Mungkin sementara ini saya hanya bisa berbicara mengenai ini, dan ijinkan saya membahas hal selanjutnya setelah saya kembali merangkai pemikiran saya. Terima kasih telah membaca.

0 comments: